"Pengabdian". Kata yang begitu bijaksana...Asal kata abdi yang berarti hamba atau pelayan, jadi keseluruhan makna pengabdian kurang lebih adalah memberikan pelayanan secara luar biasa kepada (* negara/kerajaan, instansi pemerintahan/swasta, majikan, dll).
"Pengabadian". mungkin masih sedikit asing di telinga kita. Asal kata abadi yang berarti kekal atau tidak berkesudahan, jadi makna pengabadian adalah proses atau cara membuat sesuatu menjadi langgeng atau tidak ada masa expiredx (sudah kayak produk aja yg make batas waktu :P )
Dalam kesempatan ini saya mengajak anda yang kebetulan kesasar ke blog ini untuk sejenak berfikir apakah sebaiknya memilih pengabadian atau pengabdian...
Sering kita mendengar kata abdi negara, abdi masyarakat, abdi hukum dll, bahkan sering kita mendengar pengabdian di simbolkan dengan lamanya masa kerja pada instansi pemerintah/swasta, hal yang sangat menjadi ironi ketika hal ini terjadi. Apa landasannya?? Saya mensinyalir ada kepentingan atau maksud terselubung dari statement ini tercetus dari seseorang yang mungkin bertitel sarjana (maklum penulis gak lulus SD.. hehehehe ), sebut saja Tofik (bukan nama sebenarnya) menarik ulur perjalanan statusnya dari dulu sampai sekarang ternyata sang sarjana ini lumayan ber-ada dalam segi ekonomi, jalannya agak terbentur ketika gelar sarjana di capainya tapi fakta kehidupan menghadapkan dia pada realita sulitnya serta kompetitifnya lulusan tiap tahunnya yang berlomba bahkan antri mencari pekerjaan. Jalan pintas pun di ambil, Uang adalah raja, lobby sana sini, sang raja pun beraksi, dan abrakadabra... taraaa... jadilah dia pegawai dengan gaji yang lumayan sih,tapi gak sebanding dengan yang di keluarkannya.
setelah sekitar 5 tahun mengabdi mulailah sang sarjana ini mulai mencari cara untuk mengembalikan dan merebut kembali pundi-pundi kerajaan yang dahulunya di keluarkannya.
Otak Kotor, menjadi koruptor walaupun posisi bukan on the top / leader, ke kantor cuma bergosip, atau nongkrong di rumah kopi, itupun datangnya sering terlambat, bahkan kadang absen, praktek pungli mulai di terapkan, apalagi yang berhubungan dengan informasi dan jasa, yang penting ada cara untuk dapat menggembungkan rekening bank yang ada dimana-mana.
Ketika di tanya jawabannya itulah pengabdian ku selama ini, wajar dong dengan durasi 5 tahun kerja, di tambah side job selama ini aku bisa punya banyak uang, trus, apanya yang salah? banyak kok yang baru 1 tahun aja sudah punya rumah mewah, mobil mewah dll. lagian sudah dari dulu kan hal itu terjadi, kok kenapa anda bertanya akan hal itu kepada saya?? kapasitas anda apa?? wartawan bukan, KPK bukan, polisi bukan. Urus saja diri masing-masing (sambil marah dan berlalu).
sebegitu parah kah pola pikir orang-orang di negeri kita ini??
membanding-bandingkan hasil yang di capai dari jalan yang gak bener dengan orang lain. apa gak sadar itu bukan haknya??? apa anda akan menjadi sadar ketika telah berada di penjara atau mungkin berada di alam yang kekal selamanya??
Rustam (bukan nama sebenarnya). Temanku ini hanya lulusan SMP (lebih tinggi dia satu tingkat dari penulis), dia bekerja pada sebuah sekolah dasar, posisinya adalah penjaga sekolah sekaligus pesuruh, wow, double job. Pagi sebelum siswa-siswinya datang dia sudah lebih dulu hadir membersihkan halaman di lingkungan sekolah itu, membunyikan bel manual tanda masuk kelas, mempersiapkan sarapan dan minum teh buat guru dan kepala sekolah, belum lagi di suruh foto copy ini itu, perbaiki saluran yang mampet karena sampah yang di buang anak-anak, belum lagi tuntas kerjaannya sampai gerbang sekolah di tutup, itulah rutinitasnya tiap hari kecuali hari minggu, hampir tak ada waktu istirahat, sakit pun harus tetap masuk demi pengabdian. Upah yang di dapatkan per bulannya juga tidak mencukupi kehidupan sebulannya. Wajar sih, gaji lulusan SMP dengan Golongan I di bandingkan dengan gaji lulusan sarjana yang dalam status pegawainya berada pada Golongan III, langit dan bumi jaraknya. Tapi, apakah langit dan bumi hak-haknya?? Apakah langit dan bumi tugasnya??
15 tahun lebih dia bekerja, gubuk pun tak punya, apalagi rumah? Beruntung, dia menempati mess yang ada di belakang sekolah. Benar-benar klise dengan gambaran di atas.
pengabdian seorang Tofik karena pengabadian system korupsi berbanding terbalik dengan pengabdian seorang Rustam yang menjadikan rutinitasnya menjadi contoh pengabadian bagi rekan-rekan senasib dan sepenanggungan atau yang seprofesi dengannya.
semoga kita bisa mengintrospeksi diri kita masing-masing.
Wooow ini su tingkatan tinggi pembahasannya Bang.
BalasHapusNice Posting!
hahahaha...cuma analisis aja dari fakta kehidupan sehari-hari dek...
BalasHapus